![]() |
| Foto Istimewa |
MUNA BARAT, Sahabatsultra.com – Ketidakstabilan harga jagung dan gabah kembali menjadi keluhan utama petani di Kabupaten Muna Barat. Harga komoditas pertanian yang terus naik turun dinilai membuat petani kesulitan mendapatkan kepastian pendapatan dari hasil panen mereka.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Muna Barat mulai memperkuat koordinasi dengan Perum Bulog guna menekan gejolak harga di tingkat petani. Langkah itu ditargetkan mulai berjalan maksimal paling lambat Agustus 2026.
Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, mengungkapkan harga jagung dan gabah di pasaran saat ini masih berfluktuasi tajam. Bahkan dalam waktu singkat harga bisa mengalami penurunan drastis.
“Dulu harga sempat mencapai Rp700 ribu, namun tidak lama kemudian turun menjadi Rp500 ribu. Sekarang setelah kami cek kembali berada di angka Rp450 ribu. Artinya sampai hari ini belum ada kepastian harga bagi petani,” ujar La Ode Darwin saat
diwawancarai awak media di halaman Kantor Bupati Muna Barat, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Pemda pun mulai menyiapkan langkah pengendalian bersama Bulog agar harga hasil panen petani lebih stabil dan tidak terus merosot saat musim panen tiba.
“Kami ingin petani memiliki kepastian harga. Jangan sampai petani sudah mengeluarkan biaya besar untuk menanam, tetapi saat panen harga justru jatuh,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen memaksimalkan program stabilisasi harga jagung dan gabah agar hasil pertanian masyarakat memiliki nilai jual yang layak di pasaran.
Langkah koordinasi dengan Bulog tersebut diharapkan mampu menjadi solusi bagi petani di Muna Barat yang selama ini kerap dihantui ketidakpastian harga hasil panen.
Penulis: Redaksi



Social Header